Lensa Bali mencatat jumlah hotspot di Sumatera Selatan kembali meningkat tajam setelah sebanyak 1.818 titik panas terdeteksi pada 15 Oktober 2026. Sebagian besar titik berada di kawasan gambut, sehingga pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan pada periode cuaca kering.
Berdasarkan data hotspot, 1.131 titik terpantau berada di lahan gambut dan 687 titik lainnya di lahan mineral. Ogan Komering Ilir menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi.
OKI Mencatat 871 Titik
Kabupaten Ogan Komering Ilir atau OKI mencatat 871 hotspot.
Jumlah tersebut hampir separuh dari total Sumatera Selatan pada hari itu.
Sebanyak 692 titik di OKI berada di kawasan gambut.
Sisanya terdeteksi pada lahan mineral.
Kondisi ini menjadi perhatian karena kebakaran gambut lebih sulit ditangani dibanding kebakaran permukaan biasa.
Api dapat bergerak di bawah tanah.
Meskipun permukaan terlihat padam, bara masih bisa aktif.
Angin dan cuaca panas kemudian membuat api kembali muncul.
Muba dan Banyuasin Juga Tinggi
Selain OKI, Musi Banyuasin dan Banyuasin menjadi dua wilayah dengan jumlah hotspot tinggi.
Ketiga kabupaten memiliki bentang lahan gambut luas.
Kondisi geografis tersebut meningkatkan risiko pada musim kering.
Lahan gambut sebenarnya mampu menyimpan air dalam jumlah besar.
Namun ketika dikeringkan melalui kanal atau pembukaan lahan, permukaannya menjadi mudah terbakar.
Setelah api masuk ke lapisan gambut, proses pemadaman membutuhkan air sangat banyak.
Hotspot Bukan Selalu Kebakaran
Penting memahami bahwa hotspot merupakan indikasi panas dari satelit.
Satu hotspot tidak otomatis berarti satu kejadian kebakaran.
Petugas tetap perlu melakukan verifikasi lapangan.
Namun jumlah hotspot yang meningkat cepat menjadi tanda risiko.
Semakin banyak titik dengan tingkat kepercayaan tinggi, semakin besar kemungkinan terdapat aktivitas kebakaran.
Data satelit menjadi alat penting karena wilayah Sumatera Selatan sangat luas.
Tidak mungkin petugas memantau seluruh kawasan melalui patroli darat.
Jumlah Naik dari Beberapa Hari Sebelumnya
Pada 13 Oktober, jumlah hotspot Sumatera Selatan dilaporkan sekitar 1.324 titik.
Dua hari kemudian jumlahnya meningkat menjadi 1.818.
Kenaikan tersebut menunjukkan kondisi masih dinamis.
Sebelumnya pada awal Oktober, jumlah hotspot bahkan sempat mencapai ribuan titik lebih tinggi.
Perubahan hari ke hari dipengaruhi cuaca, aktivitas pembakaran, angin, serta kondisi kelembapan tanah.
Karena itu, satu hari dengan penurunan tidak berarti risiko selesai.
Gambut Menjadi Tantangan Utama
Kebakaran gambut memiliki dampak besar terhadap kualitas udara.
Asap yang dihasilkan dapat sangat pekat.
Api juga melepaskan karbon yang tersimpan selama waktu panjang.
Dari sisi pemadaman, akses menjadi masalah.
Beberapa lokasi berada jauh dari jalan.
Petugas harus membawa pompa, selang, dan sumber air.
Jika kanal atau sungai mengering, operasi semakin sulit.
Pencegahan karena itu jauh lebih murah daripada pemadaman.
Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan
Pembukaan lahan dengan api masih menjadi salah satu risiko.
Metode ini dianggap murah dan cepat.
Namun kebakaran dapat lepas kendali.
Api dari lahan kecil bisa menyebar ke area gambut luas.
Masyarakat perlu menggunakan metode lain untuk membersihkan lahan.
Pemerintah juga harus memastikan alternatif tersebut terjangkau.
Larangan tanpa solusi ekonomi dapat sulit diterapkan.
Petani kecil membutuhkan alat dan pendampingan.
Perusahaan Juga Punya Tanggung Jawab
Perusahaan perkebunan yang memiliki konsesi luas harus menjaga wilayahnya.
Patroli perlu dilakukan rutin.
Menara pengawas, kamera, drone, dan sensor dapat membantu menemukan api sejak awal.
Sumber air juga harus tersedia.
Ketika kebakaran terjadi, respons dalam beberapa jam pertama sangat menentukan.
Api yang masih kecil jauh lebih mudah dipadamkan.
Jika terlambat sehari, luas area terdampak dapat meningkat drastis.
Karhutla Berdampak pada Kesehatan
Asap kebakaran mengandung partikel halus yang dapat masuk ke saluran pernapasan.
Anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru lebih rentan.
Saat kualitas udara buruk, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas luar ruangan.
Masker juga dapat membantu mengurangi paparan partikel.
Puskesmas di wilayah terdampak perlu menyiapkan layanan.
Sekolah juga harus memantau kondisi.
Jika asap terlalu pekat, kegiatan luar ruang dapat dihentikan.
Penerbangan Bisa Ikut Terganggu
Asap tebal menurunkan jarak pandang.
Bandara dapat mengalami penundaan.
Transportasi darat juga menjadi lebih berbahaya.
Dampak ekonomi kemudian meluas.
Logistik terlambat.
Aktivitas perdagangan terganggu.
Pariwisata juga dapat terkena efek.
Karena itu, biaya karhutla jauh lebih besar daripada biaya pemadaman.
Teknologi Membantu Pemantauan
Sistem satelit memungkinkan pemerintah melihat hotspot hampir setiap hari.
Informasi dapat digunakan untuk menentukan prioritas patroli.
Drone juga semakin banyak digunakan untuk memeriksa area sulit dijangkau.
Namun teknologi tetap membutuhkan petugas lapangan.
Satelit memberi koordinat.
Petugas memastikan kondisi sebenarnya.
Kombinasi keduanya membuat respons lebih efisien.
Restorasi Gambut Menjadi Solusi Jangka Panjang
Pemadaman hanya menyelesaikan api saat ini.
Akar persoalan berada pada kondisi gambut yang terlalu kering.
Restorasi berupaya menaikkan kembali muka air.
Kanal dapat disekat agar air tidak cepat keluar.
Vegetasi juga dipulihkan.
Proses ini membutuhkan waktu panjang.
Namun manfaatnya besar.
Gambut yang basah jauh lebih sulit terbakar.
Kewaspadaan Harus Tetap Tinggi
Jumlah 1.818 hotspot menunjukkan Sumatera Selatan belum keluar dari risiko karhutla.
BPBD, perusahaan, pemerintah kabupaten, dan masyarakat perlu menjaga kesiapsiagaan.
Prioritas berada pada wilayah gambut dengan jumlah titik tinggi.
Respons cepat dapat mencegah hotspot berkembang menjadi kebakaran luas.
Cuaca akan menjadi faktor penentu berikutnya.
Jika hujan datang merata, risiko bisa menurun.
Namun sampai kondisi tanah benar-benar kembali basah, pengawasan tidak boleh dikendurkan.

















