Lensa Bali melaporkan warga Kabupaten Tabanan menghadapi kesulitan memperoleh Pertalite pada Minggu, 11 Oktober 2026 setelah sejumlah SPBU mengalami kekosongan stok. Antrean kendaraan terlihat di beberapa lokasi hingga mencapai bahu jalan, sementara sebagian warga memilih berkeliling mencari SPBU lain atau membeli bensin eceran agar aktivitas sehari-hari tetap berjalan.
Situasi tersebut terekam dalam Bali Post, yang menyebut antrean muncul antara lain di kawasan Kecamatan Tabanan dan Kediri.
Warga Mendatangi Beberapa SPBU
Kelangkaan membuat sebagian pengendara harus menghabiskan waktu lebih lama hanya untuk mendapatkan bahan bakar.
Salah seorang warga Tabanan, I Wayan Ega Antara, mengaku telah mendatangi empat SPBU sejak pagi.
Lokasi yang didatangi antara lain Pesiapan, Grogak, Sanggulan, dan Jalan Gatot Subroto.
Namun Pertalite disebut tidak tersedia.
Kondisi seperti ini menunjukkan bagaimana gangguan pasokan dapat langsung memengaruhi mobilitas.
Bahan bakar merupakan kebutuhan harian bagi banyak warga.
Sepeda motor maupun mobil digunakan untuk bekerja, sekolah, membawa barang, hingga memenuhi kebutuhan keluarga.
Bensin Eceran Jadi Alternatif
Ketika stok SPBU kosong, sebagian masyarakat mencari penjual eceran.
Pilihan tersebut memberikan solusi sementara.
Namun harga eceran umumnya berbeda dibanding harga resmi SPBU.
Ketersediaannya juga terbatas.
Pengendara tidak selalu mengetahui bagaimana bahan bakar disimpan.
Karena itu, kondisi normal di SPBU tetap menjadi pilihan terbaik.
Kelangkaan berkepanjangan dapat meningkatkan ketergantungan masyarakat terhadap jalur distribusi informal.
Hal ini juga dapat memunculkan spekulasi harga apabila permintaan meningkat terlalu cepat.
Pertamina Kirim Tambahan Pasokan
Pertamina Patra Niaga mempercepat tambahan pasokan untuk Bali.
Dalam keterangan ANTARA Bali, perusahaan mengirim kapal tanker yang membawa sekitar 18 ribu kiloliter Pertalite.
Kapal juga membawa sekitar 2.500 kiloliter Pertamax.
Pasokan diberangkatkan dari Kilang Balongan di Indramayu menuju Integrated Terminal Manggis di Karangasem.
Pertamina mengatur kecepatan pelayaran agar pasokan dapat tiba lebih cepat.
Langkah tersebut menunjukkan pemulihan distribusi sedang dilakukan.
Namun kedatangan kapal tidak otomatis membuat seluruh SPBU langsung memiliki stok.
Distribusi Masih Membutuhkan Waktu
BBM yang tiba di terminal harus melalui beberapa tahap.
Produk perlu diterima dan masuk fasilitas penyimpanan.
Setelah itu, distribusi dilakukan menggunakan mobil tangki menuju SPBU.
Setiap SPBU memiliki jadwal pengiriman dan kebutuhan berbeda.
Karena itu, normalisasi dapat terjadi secara bertahap.
Satu wilayah mungkin pulih lebih cepat dibanding lokasi lain.
Masyarakat sering melihat kondisi berbeda bahkan antara dua SPBU yang jaraknya tidak terlalu jauh.
Hal tersebut tidak selalu berarti distribusi tidak berjalan.
Bisa saja jadwal pengiriman keduanya berbeda.
Antrean Berpotensi Mengganggu Lalu Lintas
Masalah lain muncul ketika antrean terlalu panjang.
SPBU memiliki kapasitas area terbatas.
Ketika kendaraan tidak lagi tertampung di dalam area, antrean dapat masuk ke bahu jalan.
Kondisi ini berpotensi menyebabkan perlambatan arus kendaraan.
Pengelola SPBU perlu mengatur jalur masuk dan keluar.
Petugas juga harus memastikan kendaraan tidak menutup akses pengguna jalan lain.
Pengemudi sebaiknya tetap mengikuti antrean dengan tertib.
Berebut posisi justru meningkatkan risiko kecelakaan.
Masyarakat Diminta Tidak Panic Buying
Ketika muncul kabar kelangkaan, masyarakat sering terdorong membeli lebih banyak daripada kebutuhan normal.
Perilaku tersebut dapat memperburuk situasi.
Stok yang seharusnya cukup untuk banyak konsumen habis lebih cepat di satu lokasi.
Karena itu, pembelian sesuai kebutuhan menjadi penting.
Kendaraan tidak perlu selalu diisi penuh apabila kebutuhan perjalanan masih dapat dipenuhi dengan jumlah lebih kecil.
Pembelian menggunakan jeriken dalam jumlah besar juga perlu mengikuti ketentuan.
Distribusi BBM bersubsidi atau penugasan memiliki aturan yang harus ditaati.
Bali Sangat Bergantung pada Sistem Logistik
Sebagai pulau, Bali mempunyai pola distribusi energi yang berbeda dibanding wilayah yang terhubung darat dengan sentra produksi.
BBM harus masuk melalui terminal tertentu.
Cuaca laut, jadwal kapal, kondisi pelabuhan, dan kesiapan distribusi darat dapat memengaruhi suplai.
Gangguan pada satu titik dapat berdampak ke wilayah lain.
Karena itu, buffer stock sangat penting.
Pertamina perlu memastikan terdapat cadangan yang cukup untuk menghadapi keterlambatan sementara.
Evaluasi juga perlu dilakukan setelah kondisi normal.
Jika gangguan serupa berulang, kapasitas penyimpanan dan pola distribusi perlu ditinjau.
Pariwisata Juga Bergantung pada BBM
Bali memiliki aktivitas pariwisata sangat tinggi.
Rental mobil, sepeda motor, bus wisata, taksi, transportasi daring, dan kendaraan operasional hotel bergantung pada bahan bakar.
Kelangkaan BBM dapat menambah biaya.
Pengemudi kehilangan waktu karena harus mengantre.
Perusahaan transportasi juga harus menyesuaikan operasional.
Jika kelangkaan berlangsung lama, dampaknya bisa menjalar pada wisatawan.
Karena itu, pemulihan pasokan bukan hanya penting bagi rumah tangga, tetapi juga ekonomi daerah.
Kondisi SPBU Menjadi Ukuran Pemulihan
Tambahan 18 ribu kiloliter merupakan langkah besar.
Namun masyarakat akan menilai kondisi dari apa yang mereka lihat di SPBU.
Pasokan dianggap benar-benar pulih ketika warga tidak lagi harus berkeliling.
Antrean juga kembali normal.
Harga eceran tidak melonjak karena kelangkaan.
Pertamina perlu terus memberikan informasi yang jelas agar masyarakat tidak bergantung pada rumor.
Layanan pelanggan dan informasi distribusi dapat membantu mengurangi kepanikan.
Situasi Tabanan pada 11 Oktober menjadi gambaran betapa sensitifnya mobilitas masyarakat terhadap gangguan energi.
Normalisasi distribusi menjadi prioritas agar aktivitas sekolah, pekerjaan, upacara adat, pariwisata, dan kegiatan ekonomi dapat kembali berjalan tanpa hambatan tambahan.

















